
More Graphics
Idul Adha 1430 Hijriyah
Jumad, 27 November 2009
Buat yang pergi Haji,
Semoga jadi Haji yang mabrur!
Wassalam.

Malam itu saya lagi online dan beberapa komputer kosong. Suasananya rada horor juga secara winamp dah setop dan jarum jam menunjuk angka 11-malem! Tiba2 terdengar...
Foto di samping kadang masih bisa bikin saya terpingkal-pingkal. Begitu alami (para bocah) dan eror-nya (saya dan Hilda) di foto itu.
Tadi dari rumah udah mandi. Mandi aja, nggak tau bersih atau nggak. Hahaha. Maklum, di Ende sumber air (emang udah deket) tapi kadang jarang ngalir. Beberapa kali pernah mesen air tanki (swasta) yang biasanya se-tanki dibayar 80rb. Pernah juga udah mesen air nggak taunya PAM ngalir.
Entahlah. Ratusan kali mencoba tapi hasilnya pasti stopped in the middle of the process. Betul kalo banyak yang bilang, "kau tidak bakat jadi Penulis!"Tadi malam makan malam besar keluarga Jorbyn. Semua anggota keluarga berkumpul. Kecuali Bapak. Tentu saja! Rupanya kemarin, setelah kakiku menginjak tanah Ende, nggak ada waktu yang bisa gue susupin buat pergi ke makam Bapak. Makanya pagi ini gue diantar Bang Edon pergi ke Jalan Perwira, makam Bapak.
Makan malamnya sih biasa-biasa saja. Kemeriahannya yang nggak biasa. Obrolan kami nggak ada jedanya sama sekali. Mulai dari urusan oleh-oleh lingerie gue buat Perempuan di keluarga kami (kecuali Mama), masalah Politik Cicak vs Buaya (ngeri gue ngomonginnya), rencana ke makam Bapak bareng Bang Edon, perkembangan Tita dan Pepin, sampai ke rencana jalan-jalan ke luar kota di hari Minggu. Pastinya mereka nodong gue buat cerita soal pekerjaan, teman-teman, dan lain-lain. Nggak semua bisa gue ceritain (karena ada yang pernah gue ceritain lewat blog, status Facebook dan Plurk, email, telepon atua sms). Mana cukup 5 tahun diurai dalam beberapa jam obrolan? Jadi gue cuma cerita yang penting-penting aja.
Nggak mungkin gue cerita tentang seseorang yang nggak berani ambil resiko ber-poligami. Padahal gue siap jadi Istri kedua tanpa nafkah lahir.
Yaaa... 5 tahun gue di jakarta. Tiap hari berharap dia memberi kabar, "Dek, merit yuk? Be my second wife..." yang pasti sia-sia. Karena dia nggak berani bilang begitu, meski untuk menelepon (bahkan bertemu) pasti dilakoni.
Jadi 5 tahun ini gue jalani mimpi. Kalo jaman dulu istilahnya; melangkah di atas awan (kayak judul sinetron ya). Setengah mati gue harap dia kawinin gue, setengah mati dia tutup hubungan kami dari Istrinya. Setengah mati gue tutup urusan gue ke Jakarta dari keluarga dan ngasih alasan dapat kerja (thanks God akhirnya emang gue kerja di Grebooks) di Jakarta, setengah mati dia harap gue nggak pulang Ende. Setengah mati gue cinta dia, setengah mati dia sayang gue. Ya... semuanya setengah mati. Hasilnya setengah-setengah.
Untuk pertama kalinya T bingung mo nulis apa.T sering menulis tentang Komuni Suci Pertama.
Banyak yang nanya, "kenapa? Kan kau Muslim?"
T jawab, "iya saya Muslim... Muslim yang menjalankan HablumMinannas saja. Salah?"
Karena dalam Al-Quran tidak ditulis Hubungan Manusia Sesama Islam melainkan Hubungan Manusia dengan Manusia yaitu HablumMinannas.
Gileeeee pintar banget kesannya T nulis gini yak? Hihihihi^^;
Jangan percayaaaa aslinya yang nulis ini dongo sekaliber ber ber hahahae.
Dunia artis cilik Indonesia menjadi kosong, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk saat ini. Joshua, Enno Lerian, Trio Kwek Kwek , Sherina dan lainnya mulai beranjak dewasa, anak anak kita menjadi kehilangan idolanya. Belum lagi lagu lagu band bertema cinta ramai bersliweran membuat anak anak lebih mudah mengingat dan menghapal syair syair lagu dewasa.
Zona Indo edisi Jum’at 24 Juli 2009, mengundang opini pendengar seputar krisis penyanyi cilik di negara kita, jawabnya pun beragam. Mulai dari Industri penyanyi cilik yang dinilai kurang menjual, sampai anggapan kekurang pedulian para penulis lagu, untuk membuat syair anak anak.
“anak anak tidak lagi bernyanyi lagu satu ditambah satu, melainkan jatuh cinta atau patah hati” ujar salah satu pendengar yang dihubungi melalui telp.
Belakangan, kontes cari bakat anak anak, juga sempat menjaring beberapa nama, seperti Debo dan kawan kawan, namun tetap lagu yang mereka bawakan juga bertema cinta, dan remaja. Belum lagi, kemunculan 3 putra musisi Ahmad Dani, dengan lagu Bukan Superman.
Apakah sudah tidak ada lagi pencipta lagu anak-anak seperti Papa T Bob dkk? atau sudah tidak ada lagi penyanyi-penyanyi cilik yang berkualitas? sepertinya jawabannya bukan itu. musik sekarang sudah menjadi industri, profitabilitas lah yang menjadi sasaran. label-label major lebih memilih memfasilitasi karya-karya yang sesuai dengan permintaan pasar. sama halnya dengan stasiun televisi yang menayangkan AFI Junior dan Idola Cilik, acara yang tadinya dipandang bermanfaat untuk mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak malah ‘memaksa’
anak-anak untuk menjadi dewasa karena mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang isinya cinta.
Semoga, ini tidak berdampak banyak pada perkembangan anak anak Indonesia, apabila musik juga memiliki peranan dalam pembentukan pribadi anak.
“semoga musik Indonesia juga memberikan sedikit spacenya untuk putra putri kita” isi sms dari seorang pendengar (dinnaherly)
Copyright © 2016 Tuteh. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates